10
Jan
13

Yohana Febrianty, Tuna Netra yang Jadi Finalis X-Factor Indonesia

Sempat Berusaha Bunuh Diri, Menangis Dipuji Juri

Image

Keterbatasan fisik tidak menghalangi langkah seseorang untuk meraih prestasi. Ini juga yang dialami Yohana Febianty. Gadis tuna netra ini terus melangkah pada babak audisi final nasional X Factor Indonesia, bersaing dengan orang normal lainnya.

Bagi yang terus mengikuti tayangan X-Factor Indonesia setiap hari Jumat malam di salah satu televisi swasta nasional, pasti tahu bagaimana kiprah Yohana Febianty atau yang akrab disapa Joe tersebut. Pada tayangan babak 160 besar nasional, Jumat, 4 Januari lalu, Joe menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ketika masuk ke panggung, Joe mesti dituntun oleh salah seorang kru.

Kondisi itu membuat tiga juri, Bebi ”Romeo”, Rossa, dan Ahmad Dhani bertanya-tanya. Joe pun menjelaskan kepada dewan juri bahwa kedua matanya tidak bisa melihat, akibat penyakit Glaukoma yang dideritanya. Seketika itu, empati ditunjukkan lewat ekspresi ketiga dewan juri. Tapi, ketiga juri kembali dibuat terhenyak ketika melihat penampilan Joe saat menyanyikan lagu Listen, yang pernah dipopulerkan Beyonce.

Dari awal lagu, suara ”berat” Joe sudah mampu mengundang kekaguman mereka yang menyaksikan X-Factor. Sempat ada ”insiden”, dimana ketika menginjak bagian reff, Joe kehilangan fokus karena menangis. Melihat kejadian itu, penonton secara spontan bertepuk tangan untuk menyemangati gadis berusia 22 tahun tersebut. Kemampuannya menjangkau nada-nada tinggi mendapat applaus dari penonton yang menyaksikan secara langsung di studio.

Bisa ditebak, ketiga dewan juri pun sepakat untuk meloloskan Joe ke babak selanjutnya. Bebi pun terlihat emosional melihat penampilan Joe saat itu. ”Mulai sekarang, kalau ada orang yang menghina kamu, suruh dia telpon saya,” kata Bebi yang dikenal sebagai pencipta lagu-lagu laris di tanah air ini.

Setelah dinyatakan lolos, Joe terlihat tidak kuasa membendung air matanya. Ketika ditemui Jawa Pos Radar Malang di kediamannya di perumahan Permata Alam, Joe mengatakan, dia kehilangan fokus dan menangis saat menyanyi karena ingat dengan cobaan yang dialaminya selama ini. ”Waktu itu, perasaanku campur aduk, Allah ngasih rezeki waktu aku tidak bisa melihat. Aku juga ingat dengan bagaimana banyak orang menghinaku,” kata gadis kelahiran Surabaya, 7 Februari 1990 ini.

Siapa sebenarnya Joe ini? Masyarakat Malang, terutama yang gemar sepak bola pasti sudah tidak asing lagi dengan keluarga Joe. Ayahnya, Yohanes Geohera merupakan pemain Arema pada era Galatama. Dari pernikahannya dengan Denok Sri Suryantina, Yohannes dikarunia dua anak. Anak pertama, Yoga Eka Firmansyah Hera, dia berprofesi sebagai pemain bola. Pada musim lalu memperkuat Arema IPL. Joe adalah anak kedua pasangan Yohanes-Denok. Sejak lahir, Joe sebenarnya terlahir normal.

Masalah penglihatan baru dialami ketika menginjak SMA. Joe yang menjalani masa SMA di SMAN 12 Malang, perlahan demi perlahan mulai terganggu penglihatannya. ”Awalnya kabur saja, aku pikir mata minus atau silinder,” ujar dia.

Puncaknya terjadi pada kelas XII, menjelang ujian nasional. ”Saat itu mata saya seperti disilet,” lanjutnya.

Akhirnya, beberapa saat setelah ujian nasional, Joe mesti kehilangan kedua matanya. Secara psikologis, Joe benar-benar terpuruk kala itu. Bagaimana tidak, kehilangan dua mata membuatnya kehilangan banyak orang terdekat.

Pacarnya pun tega meninggalkan dia karena tidak bisa menerima kondisi fisiknya yang tak normal lagi. Karir musik Joe yang sejak SMA sering mengisi acara di kafe maupun pernikahan pun terancam, ketika teman-teman band-nya mulai meninggalkan dia.

Tak tahan dengan kenyataan seperti itu, Joe sempat mencoba bunuh diri dengan menenggak parfum. Beruntung, sekalipun sekujur tubuhnya membiru dan mulutnya mengeluarkan busa, nyawa Joe tertolong karena ada sanak keluarga yang cepat membawanya ke rumah sakit.

Titik balik terjadi, setelah percobaan bunuh diri yang pertama sekaligus yang terakhir kalinya. Ketika masuk bulan puasa, setelah melaksanakan salat Dhuha, ia seperti mendapatkan bisikan. ”Saya mendengar suara ayo Yohana kamu pasti bisa, pasti sukses, pasti bisa mewujudkan semua,” ujar Joe menirukan bisikan tersebut.

Perlahan, Joe pun bangkit dan semangat hidupnya kembali. Dengan keterbatasan fisiknya, Joe mencoba menekuni lagi dunia tarik suara yang sempat beberapa saat ia tinggalkan. Karena tekadnya yang kuat, beragam penghargaan dan trofii ia raih. Total, saat ini ada lebih dari 30 trofi juara yang ia dapatkan. Selain itu, Joe juga rajin mengikuti audisi ajang pencarian bakat, mulai Indonesian Idol, hingga Indonesia Mencari Bakat (IMB). Sayang, dari ajang yang diikuti, ia belum mampu menembus final nasional.

Peruntungannya baru muncul di X-Factor Indonesia season pertama yang ia ikuti sekarang ini. Tahap awal, ia mesti mengikuti audisi regional yang diadakan di Surabaya sekitar September lalu. Dari 5.300 peserta, X Factor hanya mengambil tujuh orang saja untuk maju ke tingkat nasional. Sama seperti peserta lain, Joe juga harus rela mengantre. ”Saya berangkat ke tempat audisi jam tiga subuh. Baru tampil jam empat sore,” kata gadis yang mengidolakan Whitney Houston dan Tantri Kotak itu. Di X-Factor, Joe pun berharap langkahnya bisa terus mulus. ”Aku berharap doanya dari masyarakat Malang,” ujar dia.

Tapi, bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Joe saat ini sudah bisa dikatakan sebagai prestasi membanggakan. Memukau juri-juri sekelas Bebi dan Dhani jelas tidak bisa dilakukan sembarang orang. ”Sebelumnya, dengan kondisiku seperti ini, jarang ada orang yang percaya. Tapi mereka percaya,” ujar mahasiswi semester satu Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Brawijaya (UB) itu.

Keberhasilannya ini seperti menjadi pembuktian kepada orang-orang yang selama ini menghina fisik Joe. Ketika dihina, Joe cenderung diam atau paling banter menangis. Ia tidak pernah marah, atau melabrak orang yang menghinanya. ”Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku bisa sukses lewat prestasi,” sambungnya.

Joe juga mengatakan, sekali pun sudah ikhlas dengan keterbatasan fisiknya, ia masih berharap bisa melihat. ”Aku ingin bisa melihat lagi,” harap dia.

Sementara itu, Denok, sang ibu yang selalu setia mendampingi hari-hari Joe, tidak henti-hentinya bersyukur atas apa yang diraih anaknya saat ini. Tapi terkadang dia juga sedih, mengapa sukses baru datang ketika anaknya tidak bisa melihat. ”Tapi kami bersyukur saja. Alhamdulillah, kami juga tak tahu rencana Tuhan seperti apa untuk Joe,” ujar Denok.

Sama dengan anaknya, Denok berharap kedua mata Joe bisa kembali berfungsi seperti sedia kala. Tapi, terangnya, biaya yang dibutuhkan sangat besar. Karena itu, Denok berharap, Joe bisa terus melaju di X-Factor Indonesia. ”Kalau dapat hadiah, itu bisa jadi tbiaya untuk pengobatannya,” harapnya. (indramufarendra)

 

01
Feb
12

Jatmiko, Mantan Lifter Juara Nasional yang Kini Jadi Buruh Pabrik

Satu lagi potret kehidupan mantan atlet di Negeri ini. Semasa aktif menjadi atlet angkat berat, Jatmiko mewarnai karirnya dengan berbagai gelar juara. Namun, selepas pensiun, Jatmiko terpaksa bekerja sebagai kuli pabrik bambu demi menghidupi istri dan anaknya yang masih bayi

Dulu Angkat Barbel, Kini Angkat Bambu

Hidup Pas-Pasan : Jatmiko ketika memanggul bambu di pabrik tempatnya bekerja

Tidak sulit untuk menemukan lokasi kerja Jatmiko. Pabrik pengolahan bambu, tempat Jatmiko mencari nafkah hanya berjarak 50 meter dari terminal Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Siang itu, seperti biasa, Jatmiko menjalani rutinitas di tempat kerja. Mengangkat memindahkan, menggergaji, maupun memotong bambu, ia kerjakan bersama sejumlah pekerja pabrik yang dimiliki warga Negara Australia itu.

Seperti ketika Jatmiko memindahkan bambu besar dengan berat sekitar 40 Kg. Bambu itu diangkat dan dipikul di pundaknya. Melihat otot-otot terlatih pria berumur 37 tahun itu, bisa terlihat sisa-sisa kejayaannya sebagai atlet angkat berat. Kontras dengan badan kekarnya, gaya bicara Jatmiko justru cenderung kalem. “Ya beginilah keseharian saya mas,” ujar pria berkulit gelap ini.

Jatmiko pun lantas mengajak melanjutkan obrolan di rumahnya, selepas seluruh pekerjaannya di pabrik hari itu tuntas. Rumah yang notabene milik sang adik, Ngatmari itu, terletak di Jalan Raya Mulyorejo 87B RT 02/RW 03, berjarak 500 meter dari pabrik tempat Jatmiko bekerja. Rumah yang ditinggali dua kepala keluarga itu hanya berukuran 5×5 meter. Sangat sederhana.

Setelah mempersilahkan penulis duduk di ruang tamu, Jatmiko lantas masuk ke kamar untuk mengambil sejumlah medali, piagam penghargaan, maupun piala yang pernah diraihnya semasa menjadi atlet. “Ini adalah piala favorit saya,” ujar Jatmiko, membawa sebuah piala yang tingginya nyaris satu meter. Itu adalah piala terakhir yang diraih Jatmiko. Ia meraihnya setelah menjadi juara satu dalam kejuaraan terbuka angkat berat “Bench Press” yang digelar di Dhoho Plaza, Kediri, 22 Juli 2007.

“Setelah itu, saya memutuskan mundur dari dunia angkat berat,” ujar dia. Jatmiko mengatakan, selain faktor usia, dimana ketika itu dirinya sudah menginjak 33 tahun, keluarga menjadi alasan lain dibalik keputusan pensiunnya. Pada 2007, Jatmiko menikahi Suliyati. Jika terus menerus berkarir di angkat berat yang memang terbilang kering secara finansial, Jatmiko khawatir tidak bisa menghidupi keluarganya. Sebuah pilihan yang berat, mengingat kecintaannya pada dunia angkat berat.

Jatmiko mengenang, perkenalannya dengan angkat berat terjadi begitu saja pada 1996. Bermula dari seringnya ia melihat latihan angkat berat di areal Stadion Gajayana, Jatmiko yang kala itu berusia 22 tahun tertarik untuk mencoba olahraga macho ini. “Entah kenapa, saya suka aja sama olahraga ini,” ujar dia. Dengan bimbingan pelatih pertamanya, Suwito “Ambon”, di tahun yang sama, Jatmiko langsung memberanikan diri untuk mengikuti kejuaraan.

Tak tanggung-tanggung, yang diikutinya kali pertama adalah kejuaraan berlevel nasional, yakni Kejurnas Bench Press. “Saya langsung dapat medali emas,” ujar pria yang lahir di Malang, 4 Juni 1974 itu. Setelah itu, secara rutin, tiap tahunnya Jatmiko mengikuti Kejurnas yang digelar di Jakarta Timur. “Setiap Kejurnas, saya selalu dapat medali, entah itu emas, perak, atau perunggu,” ujar putra kedua pasangan Siyah dan Yaslan itu.

Selain kejurnas, Jatmiko juga beberapa kali mengikuti kualifikasi PON atau Pra-PON. Sayang, sekalipun selalu meraih medali, Jatmiko tak bisa menembus babak utama PON. Pasalnya, syarat atlet yang bisa masuk babak utama adalah harus masuk lima besar, setelah meraih medali pada beberapa nomor yang dilombakan. “Saya mentok di posisi enam,” ujar Jatmiko yang meraih satu medali perak pada Pra PON XVI/2004 yang digelar di Semarang, 11-19 Oktober 2003 itu.

Masa Lalu : Kenangan manis saat berprestasi sebagai lifter

Jatmiko mengenang betapa kerasnya latihan yang dijalaninya untuk meraih berbagai gelar itu. “Sebagai atlet angkatan berat, saya malu jika sampai gagal pada suatu angkatan. Makanya, saya terus berlatih keras,” ujar dia. Setiap hari, Jatmiko berlatih di arena latihan PABBSI Kota Malang di Stadion Gajayana. Bahkan, Jatmiko selalu menggunakan sepeda kayuh sebagai alat transportasinya dari rumah ke lokasi latihan. Selain tak punya pilihan lain, sepeda kayuh turut membantu meningkatkan kondisi fisik.

Semasa menjadi atlet, Jatmiko juga mesti bekerja sebagai buruh bangunan, hingga menjadi tukang angkat beras di toko sembako. Itu dilakukan, karena bonus yang diterima sebagai atlet tidak seberapa. “Waktu itu, paling banter saya hanya dapat Rp 500 ribu untuk prestasi yang saya raih,” ujar dia. Bandingkan dengan bonus atlet saat ini yang bisa mencapai Rp 15 juta untuk satu medali emas di ajang tingkat provinsi. Karena itulah, untuk menopang biaya hidup sehari-hari, semasa menjadi atlet juga nyambi bekerja sebagai buruh bangunan, hingga tukang angkut beras di toko sembako.

Setelah kerja serabutan di berbagai tempat, pada pertengahan 2010, Jatmiko bekerja di pabrik pengolahan bambu hingga sekarang. Ia diupah Rp 30 ribu per hari. Bila dibandingkan kerja sebagai kuli bangunan yang biasanya dihargai hingga Rp 45 ribu per hari, upah di pabrik bambu memang tidak seberapa. “Tapi kan kerja kuli bangunan itu tidak sewaktu-waktu ada,” kata dia.

Baginya, upah sekecil itu jelas tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari. Apalagi, dia kini juga harus mengurusi putra pertamanya, Muhammad Firdaus, yang kini baru berusia 10 bulan. Sebagai mantan atlet yang pernah mengharumkan Kota Malang, Jatmiko berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah. “Selama ini orang seperti saya tidak pernah diperhatikan. Tidak muluk-muluk, saya berharap bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak dari sekarang,” ujar dia.

Mengenai dunia angkat berat yang pernah mengantarkannya meraih banyak gelar, terbesit kerinduan bagi Jatmiko untuk kembali, mungkin sebagai pelatih. “Memang ada keinginan seperti itu, tapi itu juga susah karena saya juga harus bekerja untuk menafkahi anak istri,” ujar dia. Bahkan, untuk mengobati kerinduan, sesekali Jatmiko menyambangi lokasi latihan PABBSI di Gajayana.

Sekalipun cinta dengan dunia angkat berat, namun Jatmiko sama sekali tidak berharap sang anak meneruskan jejaknya. Bahkan, kalau bisa sang anak tidak menjadi atlet angkat berat. “Wah, soro mas (berat mas) jadi atlet angkat berat. Cukup saya saja,” ujar dia. Apalagi, sebagai olahraga yang tidak terlalu populer, sulit untuk mengharapkan materi dari angkat berat. “Kalaupun jadi atlet, mending sepakbola saja, lebih menghasilkan,” tandasnya. (indramufarendra/radarmalang/jawapos)

14
Jul
11

Minto Hadi, Mantan Juara Tinju Nasional yang Kini Jadi Tukang Pijat Tuna Netra

Sempat Akan Bunuh Diri, Sadar setelah Tersentuh Zainudin MZ

Semasa aktif di atas ring, Minto Hadi adalah salah satu petinju yang berjaya di masanya. Namun akibat kebutaan yang dideritanya, ia harus mengubur banyak mimpi yang sudah di depan mata. Kini, Minto menekuni profesi yang sungguh bertolak belakang dari dunianya yang serba keras.

Pijatan Eks Petinju : Minto Hadi memijat pasien di klinik pijat miliknya

Rumah Minto Hadi tak sulit ditemukan. Karena siapa pun yang akan berkunjung ke rumahnya di Jl Mayjend Sungkono Gg 2 / 62 Kedungkandang, Kota Malang, akan ’’dipandu” papan nama bertuliskan Klinik Pijat Puspita. Papan dengan latar hijau tua itu terlihat cukup mencolok di depan gapura Gang 2.

Sekitar 50 meter dari gapura, satu papan nama Puspita lagi dengan panah ke arah utara. Sekitar 10 meter dari papan petunjuk kedua itulah rumah Minto. Rumah bercat oranye yang berada di dalam gang sempit tersebut memang terlihat sederhana. Tidak terlihat perabotan mencolok dari rumah yang merupakan pemberian dari Menpora Andi Mallarangeng pada 2010 itu. Bahkan, rumah tersebut juga tidak memiliki halaman.

Salah satu kamar di bagian depan rumah Minto dimanfaatkannya sebagai tempat melayani pasien. Di ruangan seluas 2 x 2 meter itu ada tempat tidur, plus sebuah meja. Di atas meja terdapat sebuah tape compo warna hitam.

Siang itu, Minto tengah sibuk melayani salah seorang pelanggannya. Memang, penampilan Minto tak berbeda dengan pemijat tuna netra lainnya. Kacamata hitam selalu setia melindungi kedua matanya. Namun, siapa sangka, pria kelahiran Banyuwangi, 17 Agustus 1968, itu dulunya adalah seorang petinju.

Bukan sembarang petinju. Minto adalah petinju dengan gelar juara nasional. Bahkan, ia nyaris menjadi juara OPBF (Oriental and Pacific Boxing Federation) jika tidak mengalami kebutaan pada kedua matanya.
Suami Winariyah ini menuturkan, dirinya mulai terjun ke dunia tinju ketika duduk di bangku SMA. Seperti kebanyakan petinju, ketertarikan Minto pada olahraga keras ini bermula dari seringnya ia menyaksikan pertandingan tinju. Terutama lewat layar kaca.

Idolanya kala itu adalah petinju legendaris Indonesia, Elyas Pical. ’’Sambil menonton, saya membayangkan bagaimana jika saya menjadi seperti Ely. Pasti senang menjadi juara dunia dan dikenal banyak orang,” ujar pria yang terlahir dengan nama Heri Subagio, sebelum berganti nama menjadi Minto Hadi saat berumur 5 tahunan.

Karena itulah, saat masih duduk di kelas II SMA 4 Jember, Minto memutuskan bergabung dengan Sasana Kumintir, Jember. Namun konsekuensi dari padatnya latihan yang dijalani membuat Minto tidak bisa menyelesaikan pendidikan SMA-nya.

Minto yang mengaku tidak pernah bertanding di level amatir itu melakoni pertandingan profesional pertamanya pada Agustus 1986. Kala itu dirinya berusia 18 tahun. Minto bertarung melawan petinju lokal Jember, Sabira, dalam partai enam ronde. ’’Hasilnya, saya menang angka mutlak,” kenangnya. Seperti sudah menjadi garis hidupnya, sejak saat itu karirnya terus meroket.

Puncaknya pada Oktober 1991. Minto yang kala itu berada di bawah naungan sasana legendaris Akas Boxing Camp, Probolinggo, berhasil menjadi juara kelas terbang 50,8 Kg versi KTI (Komisi Tinju Indonesia). Sabuk bergengsi itu ia peroleh dari petinju Sasana Manggala Jakarta, Ringgo Hasan Labubun. Kemenangan TKO pada ronde 11 itu sekaligus menahbiskan dirinya sebagai petinju Akas pertama yang menjadi juara nasional.

Setelah merebut juara nasional, Minto berkali-kali mampu mempertahankan sabuk itu. Namun malang, dari beberapa pertandingan yang dilakoninya, ternyata membuat matanya makin menurun kemampuannya. Puncaknya, pada Desember 1993 saat dia harus melakoni partai mempertahankan gelar melawan Jack Jaya (sasana Tonsco Jakarta) di Ambon.

Dalam pertarungan melawan adik ipar Elyas Pical itu, Minto memang terkesan memaksakan diri. Sebab kala itu, matanya sudah mulai kabur. Karena itulah tak mengherankan jika pada akhirnya Minto kalah TKO pada ronde enam. Itulah pertandingan terakhir Minto yang juga mengubah jalan hidupnya.

Usai pertarungan melawan Jack, kondisi mata Minto makin memburuk. Jutaan rupiah yang dihabiskan untuk biaya berobat pun ternyata tidak mampu menolong. Bukannya sembuh, Minto justru tidak mampu melihat sama sekali pada tahun 1995. ’’Itu jadi titik terendah dalam hidup saya,” kata dia.

Soal karir, Minto jelas sudah habis. Padahal, pada masa jayanya, Minto sempat menduduki peringkat 2 ranking OPBF untuk kelas terbang. ’’Saya sempat nyaris akan dipertemukan dengan juara OPBF kala itu,” ujar Minto.

Namun, lebih dari sekadar karir, kehidupan pribadinya pun berantakan setelah mengalami kebutaan. Minto saat itu merasa jadi orang yang tidak berguna. Ia pun sempat marah pada Tuhan.

’’Saya sempat mengeluh pada Allah. Orang jahat, perampok saja bisa sehat, tapi kenapa saya begini. Padahal saya hanya petinju. Saya juga tidak pernah berbuat yang macam-macam,” kata Minto dengan mata berkaca-kaca. Karena itulah, beberapa kali Minto sempat berencana untuk mengakhiri hidupnya lebih cepat.

Dengan kondisi psikologis yang seperti itu, Minto jadi gampang uring-uringan. Puncaknya, pada 1995, dia menceraikan dua istrinya sekaligus, yakni istri pertama Muslifah dan Peni Mulyani. ’’Sebetulnya, perceraian itu bukan salah istri. Itu karena saya saja,” kata anak pertama pasangan Subiran dan Siti Maemunah ini. Namun tak lama setelah menceraikan istrinya, Minto justru mengalami fase titik balik.

Bermula dari seringnya Minto mendengarkan pengajian da’i sejuta umat Zainuddin MZ di radio, perlahan namun pasti, dirinya mendapat pencerahan. Diungkapkan olehnya, ada satu pengajian Zainuddin yang berpengaruh besar bagi hidupnya. ’’Waktu itu ceramah beliau tentang ujian. Dia mengatakan, hakekat hidup sebetulnya adalah ujian. Baik kaya-miskin, tua-muda, semua tidak luput dari ujian,” tuturnya.
Karena itulah setelah pikirannya terbuka, Minto lantas berdoa. ’’Ya Allah, beri saya petunjuk. Kalau memang ini yang terbaik, tunjukkan jalan,” ujarnya.

Meski sudah mulai ikhlas, namun Minto masih merasa jadi orang yang tidak berguna. ’’Saya hanya bisa tinju. Kalau buta begini, saya bisa apa,” kata dia. Namun, seperti mendapat petunjuk, Minto seperti menerima suatu bisikan. ’’Ada yang berbisik; kamu lebih baik mijet,” ujar dia.

Karena itu, pada Juli 2003, Minto memutuskan hijrah ke Malang dan mengikuti kursus memijat di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra, Janti, Kota Malang. Dia belajar di sana antara 2003-2006. Di situ pulalah, Minto kenal dengan adik ipar guru pijatnya, Winariyah yang kemudian dinikahinya pada Januari 2007.

Setelah tiga tahun mengikuti kursus, barulah, pada 2007 ia membuka klinik pijat pertamanya di Arjowinangun. ’’Di sana hanya bertahan setahun sebelum pindah ke Lesanpuro selama dua tahun,” kata dia.
Setelah dua kali pindah, Minto akhirnya menetap di rumahnya saat ini yang merupakan bantuan dari Menpora pada Februari 2010.

Menjadi pemijat tentu saja sempat membuatnya canggung. Apalagi, dirinya dulu pernah jaya sebagai seorang petinju. ’’Tapi akhirnya saya mantap. Kenapa harus malu, toh saya bekerja bukan meminta-minta,” kata dia.

Apalagi, menjadi tukang pijat juga dianggapnya sebagai ibadah. ’’Kalau dulu saya sering mukul orang di atas ring. Sekarang saya menyenangkan orang dengan pijatan saya,” kata dia.

Minto mengatakan, jumlah pasien per harinya memang tidak tentu. Kalau lagi sepi kadang cuma satu, tapi kalau ramai bisa lima. Tak hanya melayani di rumah, Minto juga sering memijat di rumah pasiennya.
Untuk harga, Minto tidak pernah mematok harga. ’’Seikhlasnya saja. Kadang ada yang memberi Rp 20 ribu, kadang ada yang sampai Rp 300 ribu,” ungkap Minto. ’’Sekarang bukan materi yang jadi tujuan hidup saya. Saya hanya ingin hidup tenang,’’ sambungnya.

Dengan tidak bisa melihat, Minto mengaku dirinya terhindar dari perbuatan maksiat. Terutama zina mata. Meski sudah sangat menerima kondisi matanya, namun sejatinya Minto masih berharap suatu saat kedua matanya bisa sembuh. Alasannya, Minto sangat ingin melihat wajah istri, terutama kedua anak dari pernikahannya terdahulu.
Dari mantan istri pertama, Minto dikaruniai Deka Ramana Putra yang kini berumur 18 tahun. Kemudian dari mantan istri kedua, dia dikarunia Beni Adi Firmansyah yang kini berumur 17 tahun. ’’Katanya, anak-anak saya berwajah tampan dan digilai wanita. Saya jadi ingin tahu setampan apa mereka,” kata dia. (indramufarendra)

26
Jun
11

Mengenang Abu Dhori, Pelatih Tinju Legendaris Indonesia

Berawal Dari Pasar Malam, Tak Segan Tampar Petinju di Atas Ring

Abu Dhori memang telah berpulang pada 5 Juni lalu. Meski begitu, namanya masih tetap hidup di benak pecinta tinju tanah air. Semasa hidup, dialah pelatih bertangan dingin yang pernah mencetak petinju-petinju juara internasional, mulai Wongso Suseno, Thomas Americo, hingga Nico Thomas.

Sebagai petinju, prestasi Abu Dhori tidak terlalu mencolok. Cak Abu, demikian dia biasa disapa, lebih dikenal sebagai petinju pasar malam. Ini karena pada decade 60-an, pertandingan tinju banyak dihelat di pasar malam.

Kiprahnya baru diakui banyak pihak, ketika pria kelahiran 22 Desember 1944 itu, menjadi pelatih tinju mulai tahun 70-an. Sejumlah sasana tercatat pernah dipegang oleh Cak Abu, mulai GTS (Gatot Subroto), Gajayana (1977-1986), Tons Co (1986—1990), PKT Bontang (1990-1994), hingga akhirnya mendirikan sasana sendiri, Dhori Gym, pada 1995. Sebagai pelatih, Cak Abu berkali-kali mengatarkan anak didiknya menjadi juara. Bukan hanya juara nasional, tapi juga juara internasional.

Satu nama yang patut dikedepankan adalah Wongso Suseno. Dialah petinju pertama Indonesia yang merebut sabuk juara internasional. Wongso menjadi juara kelas welter versi OPBF (Oriental Pacific Boxing Federation) pada 1975. Bahkan, pada 1976, Wongso melengkapi prestasinya dengan sabuk juara WBA Intercontinental.

Tak kalah fenomenal, adalah Thomas Americo. Setelah menjadi juara OPBF kelas welter yunior pada tahun 1980, Thomas mentahbiskan diri sebagai petinju pertama Indonesia yang menantang juara dunia pada tahun 1981. Kala itu, Thomas menantang juara dunia kelas welter yunior WBC, Saoul Mamby. Pertandingan yang kala itu digelar di Jakarta juga tercatat sebagai pertandingan perebutan gelar juara dunia yang digelar pertama kalinya di Indonesia.

Seperti tak pernah terputus, belum habis era Thomas, muncul lagi Djuhari yang merebut sabuk juara kelas ringan OPBF di tahun 1983. Daftar nama itu juga terus bertambah karena Cak Abu juga pernah memoles juara WBC Intercontinental dan IBF Intercontinental, Nurhuda. Kemudian ada nama-nama Nico Thomas, Hasan Ambon, Little Holmes, Solikhin, Kid Hasan, Ahmad Fandi dan lain-lain.

Djuhari, salah seorang “murid”, mengaku sangat terkesan dengan sosok Cak Abu. “Cak Abu itu sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan memarahi petinjunya yang malas latihan atau keluyuran malam,” kata pria yang tercatat sebagai PNS Dispenda Pemkot Malang ini. Karena kedisiplinan dan ketegasannya, hampir tak ada satupun petinjunya yang berani membantah. “Kami juga terkesima dengan wibawanya,” kata Djuhari.

Lain Djuhari, lain pula Ahmad Fandi, juara kelas bulu junior WBC Intercontinental antara 1998-1999. Fandi yang disebut sebagai “produk” juara internasional terakhir Cak Abu itu punya kenangan tak terlupakan semasa dilatih Cak Abu.

Pada 1999, melawan Akbar Maulana, dirinya mengutarakan keinginannya untuk menyerah saat istirahat ronde kelima. “Saya bilang, fisik saya drop,” ujarnya kepada Cak Abu kala itu. Tidak disangka-disangka, Cak Abu tiba-tiba menampar wajah Fandi. Cak Abu bahkan berkata : “Kamu maju. Jangan menyerah,” tiru Fandi. Hebatnya, setelah tamparan dan kata-kata dari Cak Abu, dirinya justru semakin bersemangat. “Saya tampil menggila, lawan saya pukul KO ronde tujuh,” ujar dia. Karena itulah, ia menyebut Cak Abu adalah pelatih terbaik yang pernah ia temui. “Begitu pintarnya ia memotivasi petinjunya,” ujarnya.

Jika Fandi menyebut Cak Abu sebagai motivator ulung, Nurhuda justru terkesan dengan kecerdasan Cak Abu dalam mengatur strategi. “Dia mampu menganalisa kelebihan dan kekurangan lawan, plus menentukan strategi untuk memenangkan pertandingan,” kata pria yang lebih banyak dilatih oleh Wongso Suseno itu.

Tak hanya sebagai sosok hebat di dunia tinju, Cak Abu adalah panutan di luar ring. Ia dikenal sebagai sosok yang religius. Ali Aswad, mantan petinju yang dikenal dekat dengan almarhum, terutama menjelang akhir hayatnya, mengaku bahwa Cak Abu seringkali mengingatkan orang-orang terdekatnya untuk sholat. “Ia juga sering bilang, kamu jangan jadi orang yang sombong. Banyaklah beribadah,” kata dia.

Ali mengungkapkan, ada satu warisan Cak Abu yang juga tidak bisa dilupakan, yakni sasana Dhori Gym. Setelah sempat vakum selama beberapa tahun, Dhori Gym mulai menggeliat pada Agustus 2010 silam. Dan sepeninggal Cak Abu, dirinya lah yang dipercaya untuk mengelola Dhori Gym. “Semua orang tahu, membawa nama Abu Dhori sangat berat. Tapi saya harus bisa mengemban amanah itu dengan baik,” kata dia.

Memang, Cak Abu telah pergi untuk selama-lamanya. Namun tidak demikian halnya dengan semangatnya, dedikasinya yang menjadi inspirasi banyak orang. Bahkan, kepergian Cak Abu harusnya menjadi tonggak untuk mengembalikan hingar-bingar dan kejayaan tinju seperti era 70-90an. Selamat jalan Cak Abu. (indramufarendra)

22
Apr
11

Yani Suyanto, Waria yang Kembali Jadi Pria

Yani Suyanto, Waria  yang Kembali Jadi Pria 

Hidayah dari Allah sungguh luar biasa. Itulah yang dialami Yani Suyanto, waria yang bertobat dan kembali menjadi laki-laki. Dengan kuasa-Nya pula, ia pun mampu mentas dari kehidupan yang kelam.

Hidayah : Jalan panjang untuk kembali ke kodrat semula (foto oleh Suharto/radarmalang)

Foto semasa jadi waria (repro)

Gunduli Rambut Sehabis Mimpi Salat

 ’’Saya sempat protes pada Tuhan karena terlahir tidak jelas,”

Salon Yani pukul 12.00 kemarin. Salon yang berada di Jl Belakang RSSA Malang itu tampak ramai. Yani Suyanto, sang pemilik salon tampak sibuk mengatur kursi.

Siang itu Yani tampak macho. Badan yang tegap dengan balutan kemeja warna hijau dan celana jeans biru tua menambah kesan itu. Apalagi dengan jenggot yang menghiasi dagunya menambah kegagahannya.

Namun jika diamati lebih jeli, di sekitar bulu alisnya samar-samar terlihat tato alis yang biasa digunakan para wanita. Gaya bicaranya pun masih sedikit feminim. Itu bisa dimaklumi. Apalagi Yani adalah mantan waria yang baru sebulan belakangan menjadi pria tulen.

’’Sejak lahir saya memang terlahir sebagai laki-laki. Tapi saya berbeda dengan orang-orang kebanyakan,” ujar pria kelahiran 17 Juni 1971 ini mengawali kisah hidupnya.

Ia mengakui, bukan orang tua atau lingkunganlah yang menjadikan dia bertingkah layaknya anak perempuan. ’’Semua terjadi begitu saja,” ujarnya.

Percaya atau tidak, saat hamil, ibunya sering ngidam aneh-aneh. ’’Yang paling aneh, ibu ngidam nonton ludruk,” ujarnya. Ludruk yang ditonton pun beranggotakan laki-laki yang melakonkan karakter wanita.

Meski terlahir sebagai laki-laki, tapi paras yang dimiliki Yani tidak seperti laki-laki pada umumnya. Bibirnya merah. Begitu juga dengan garis wajahnya yang halus seperti halnya wanita. ’’Kondisi itu membuat tetangganya sering bertanya-tanya, saya ini cowok atau cewek,” ujarnya.

Paras yang feminim itu tak jarang membuatnya sering digoda teman-teman cowoknya. Bahkan, saat duduk di bangku SD, ia sering diciumi teman-temannya yang lelaki. Mendapat perlakuan seperti itu, Yani mengaku tak risih sedikit pun. ’’Saya menikmatinya,” ujarnya.

Tingkah feminim ini membuat sang ayah tidak bisa menerima kondisi Yani. Bahkan ayahnya sampai menyuruh Yani merokok agar kelihatan lebih laki-laki. Bahkan, sejak kecil ia dibiasakan bekerja keras seperti mencari rumput sepulang sekolah.

Menginjak kelas 3 SMP, peristiwa ’’kedewasaan’’ dialaminya. Ia pun mimpi basah sebagai penanda masa remaja. Namun anehnya, ia bermimpi tidak dengan lawan jenis atau wanita, tapi dengan pria. Saat itu pula, dia baru sadar bahwa dirinya benar-benar berbeda dengan laki-laki sebayanya. ’’Saya sempat protes pada Tuhan karena terlahir tidak jelas,” ujarnya.

Selepas SMA, babak baru kehidupannya dimulai. Pada 1991, dengan modal nekat dan meminjam uang sana-sini, Yani mulai merintis usaha salon. Sejak saat itu pulalah dia intens bergaul dengan para waria. Ia pun mulai ’’mangkal” di stasiun.

Ada cerita unik di masa awal mangkal di stasiun itu. Yani mengatakan, pada suatu ketika ia bertemu dengan teman SMA-nya yang menjadi waria di stasiun. Yang membuatnya terheran-heran, sepengetahuannya, teman-teman SMA-nya itu adalah lelaki tulen. ’’Dia sama sekali tidak feminim, tapi malah jadi waria lebih dulu daripada saya,” kenangnya seraya tertawa.

Pada 1995, Yani mengambil keputusan besar. Yakni menyuntik dadanya dengan silikon agar terlihat seperti payudara pada wanita. Waktu itu, ia menghabiskan uang Rp 4 juta untuk suntik silikon.

Sejak saat itu, Yani pun makin tenggelam dalam kehidupan yang kelam. Pada masa itu, Yani pun terkenal sebagai waria berkelas. Selain tidak mau dibayar murah, ia pun hanya mau melayani pelanggannya di sebuah kamar hotel bintang. Ia pun sanggup melayani lima laki-laki dalam semalam.

Lelah berpetualang di jalanan, pada 2000 lalu, Yani memutuskan untuk fokus mengurus salonnya. Meski sudah jarang mangkal di stasiun, Yani tetap melayani laki-laki yang ingin menikmati ’’servisnya”.

Kehidupan penjara pun pernah dialami Yani pada 2001. Ia harus mendekam di LP Lowokwaru selama 5 bulan karena kasus judi togel. ’’Itulah yang menjadi tonggak awal pertobatan saya,” ujarnya.

Selama di penjara, Yani yang sejak mangkal di stasiun tidak pernah salat, kembali rajin salat lima waktu. Tapi kala itu, tobatnya hanya setengah-setengah.

Sekeluar dari penjara, ia pun tetap melayani pelanggannya. Memang, ia juga berusaha salat lima waktu. ’’Tapi salat yang saya lakukan hanya untuk penyeimbang saja,” ujarnya.

Maksudnya, ia salat untuk mengimbangi perbuatan maksiat yang selama ini ia lakukan. Meski salatnya setengah-setengah, namun sedikit banyak itu mulai membuka pikirannya. ’’Saat shalat jamaah di masjid, saya seringkali menangis,” akunya.

Ia pun merasa tak nyaman dengan keadaannya saat ini yang jelas-jelas jauh dari jalan Tuhan. Selang 15 hari menjelang Ramadan 2010 ini, tiga kali ia mendapatkan mimpi aneh.

Yang pertama, ia mimpi melihat orang sedang mengaji. Begitu juga dengan mimpinya  yang kedua. Pada mimpi ketiga, Yani melihat orang sedang melaksanakan salat. Pada mimpi ketigalah ia mengakui telah membalik hidupnya.

’’Dalam mimpi, saya sedang salat. Sementara di depan saya, ada Alquran yang bercahaya,” kenangnya.

Ketika terjaga dari mimpi, Yani menangis sejadi-jadinya. Ia pun bergegas mengambil gunting, lalu mencukur habis rambutnya. Sejak saat itu pula, Yani sudah tidak berminat lagi terhadap sesama jenisnya. Tidak puas, Yani pun berusaha untuk mencari tempat operasi payudara.

Sekali lagi, Yani benar-benar diberikan jalan oleh Tuhan. Ia mendapat bantuan dari dermawan untuk meringankan biaya operasinya. ’’Jika normalnya Rp 40 juta, saya hanya perlu bayar Rp 7 juta,” ujarnya. Tak hanya dari segi biaya, setelah operasi pun Yani sama sekali tidak merasakan sakit. ’’Dokter sampai heran, karena luka saya cepat sembuh,” katanya.

Dengan kembali menjadi laki-laki, Yani merasa hatinya jauh lebih tenang. Terlepas dari cibiran yang sering ia terima dari waria, Ia telah bulat dengan keputusannya. “Saya merasa lebih nyaman begini,” kata dia.

Setelah kembali menjadi laki-laki tulen, Yani berencana untuk mendaftar ibadah haji. ’’Saya ingin sekali pergi ke tanah suci,” katanya.

Selain itu, dengan malu-malu, Yani juga mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan wanita. ’’Tapi yang lebih penting, saya ingin membenahi diri saya terlebih dulu,” ujarnya. (indramufarendra)

.

29
Mar
11

Kisah Sunaryo, angkat derajat pengamen lewat tim SAR

Kisah Sunaryo, Angkat Derajat Pengamen Jalanan Lewat Tim SAR

Panggilan Datang, Mengamen pun Ditinggalkan

SAR Pengamen

Beri Bukti : Sunaryo (paling kanan) dan rekan-rekannya sesama pengamen

Di mata masyarakat, profesi pengamen masih dianggap sebelah mata. Selain berkutat di jalanan, sejumlah tindakan usil hingga kriminal yang dilakukan segelintir pengamen membuat imej negatif itu semakin menguat di masyarakat. Namun pandangan harus dibuang jauh-jauh ketika melihat kiprah para pengamen yang satu ini.

Hidup mereka kan sebenarnya juga sulit, tapi kok masih sempat-sempatnya bantu kesulitan orang lain,

kata Sarjono, ketua tim SAR Trenggana

Sore itu, sepuluh orang pengamen telah berkumpul di rumah ketua tim SAR Trenggana, Jl Gadang gg 5b kota Malang. Sebagian besar dari mereka masih berusia belia. Dandanan merekapun khas pengamen yang banyak dijumpai di perempatan jalan, atau yang berkeliling di pemukiman. Wajah lusuh, rambut acak-acakan, serta pakaian kumal seolah menjadi stereotip profesi ini.

Begitu pula dengan senjata khas mereka, seperti gitar hingga galon air mineral yang tidak lagi sedap dipandang, seolah menjadi saksi bisu dari perjalanan hidup mereka selama ini. Jika hanya diamati dari luar, mereka jelas tidak istimewa. Namun, bila dicermati dan ditelusuri lebih dalam lagi, sikap apatis masyarakat mungkin bakal berbalik dengan rasa simpati. Bahkan bisa jadi, banyak orang akan malu, karena tidak punya keberanian atau keikhlasan seperti mereka.

Mereka adalah sedikit dari segelintir warga negara yang masih punya kepedulian terhadap sesamanya. Hampir dua bulan ini, mereka tergabung sebagai anggota SAR Trenggana. Tepatnya pada 24 Desember 2010.

Keikutsertaan para pengamen ini tidak lepas dari perjuangan Sunaryo, ketua Syarikat Pengamen Jalanan Malang (SPJM). Sunaryo sendiri sudah aktif di tim SAR sejak Agustus 2010. Namun, Sunaryo menolak jika dirinya memaksa anak-anak tersebut untuk bergabung di tim SAR.

“Mereka sendiri yang menawarkan diri,” kata pria 31 tahun yang juga menjadi salah satu pelatih tim SAR.

Sunaryo mengungkapkan, meski didominasi remaja, namun kontribusi mereka tidak perlu diragukan. Secara fisik, para pengamen tidak perlu diragukan lagi. Selama bertahun-tahun, tubuh mereka ditempa oleh panasnya matahari. Berjalan kaki hingga puluhan kilometer pun menjadi makanan sehari-hari.

Daya jelajah yang luas dari pengamen itu juga menjadi keuntungan tersendiri bagi tim SAR. “Jaringan informasi SAR jelas lebih luar dengan keberadaan kami,” ujar pria berumur 31 tahun ini. Mengenai loyalitas dan kesungguhan, mereka juga tidak boleh diremehkan. Seringkali, para pengamen ini mesti meninggalkan pekerjaannya, demi untuk menolong orang lain. “Ketika mendapat informasi, tidak perlu berpikir panjang, kita langsung menuju lokasi,” kata bapak tiga anak yang tidak lulus Sekolah Dasar ini.

Karena tugas SAR pasti datang tak terduga, para pengamen selalu membawa atribut SAR atau perlengkapan mereka di tas kecil. Sunaryo mengungkapkan, ada kejadian tak terlupakan saat para pengamen ini bertugas sebagai SAR. Pernah, beberapa pengamen, mengamen di sebuah rumah pada pukul 16.00. Eh, tidak disangka, pada pukul 21.00 rumah tersebut kebakaran. “Kami bahkan masih ingat wajah pemilik rumah, saat memberi uang, maupun saat rumahnya terbakar,” kata dia mengenang kejadian yang berlangsung di Muharto, 8 Februari lalu.

Selain itu, ada pula kejadian lucu yang dialami oleh anggota termuda SAR pengamen, Yudha Wisma yang masih duduk di kelas 5 SD Kotalama VI. Menurut Sunaryo, kala itu Yudha dan teman-temannya tengah mencari korban tenggelam. Namun karena kelelahan, Yudha pun tidur di area bantaran sungai.

Tiba-tiba, beberapa rekannya berteriak karena mengira melihat mayat terapung. Yudha yang terbangun dari tidurnya pun secara reflek berlari ke arah sungai. Mungkin, karena masih setengah terjaga, Yudha terpeleset, hingga akhirnya tercebur ke sungai. Tak ayal, Yudha yang semestinya jadi penolong, justru ditolong oleh rekan-rekannya.

Sunaryo mengatakan, kejadian itu jadi pengalaman berharga bagi para pengamen lainnya. Meskipun menjadi penolong, keselamatan diri sendiri patut menjadi prioritas. Karena itulah, Sunaryo dan pelatih SAR lainnya berusaha memberi pembekalan yang cukup pada para pengamen ini. “Tiap minggu kami menggelar latihan,” kata dia. Latihan itu meliputi pelajaran membuat tali temali untuk safety, hingga cara melakukan pertolongan pertama pada korban.

Sunaryo mengungkapkan, dirinya tak memungkiri jika masuknya pengamen dalam tim SAR didasari oleh harapan untuk merubah stigma negatif masyakat terhadap profesi yang mereka jalani. “Kami tak ingin, pengamen dipandang miring,” katanya. Menurutnya, tak adil jika menganggap semua pengamen. Profesi lain di luar pengamen, yang sehari-hari menggunakan pakaian rapi, juga bisa lebih buruk ketimbang pengamen.

Sunaryo juga tidak mengelak bahwa pengamen yang “nakal” itu ada. Tapi itupun lebih bersifat individual. Namun ia memastikan jika pengamen yang tergabung di SAR, atau juga di SPJM menjunjung tinggi etika sebagai pengaman. Etika itu antara lain, mereka tidak memaksa orang untuk memberikan uang. “Ketika diberi maupun tidak diberi pun, kita harus tetap mengucapkan terima kasih,” ungkapnya.

Sunaryo pun berharap, dengan masuknya pengamen dalam tim SAR, sedikit banyak bisa mengikis stigma negatif masyarakat terhadap pengamen. Bagaimanapun, pengamen juga warga yang punya hak dan kewajiban sama dengan warga lainnya.

Hal itu diamini oleh ketua SAR Trenggana, Sarjono. Ia mengungkapkan, pada awalnya dirinya termasuk orang yang pesimis ketika para pengamen ini menawarkan diri untuk bergabung. “Namun, semua keraguan sirna ketika melihat cara mereka bekerja. Luar bisa, padahal mereka masih muda,” ujarnya.

Ia pun mengaku trenyuh melihat semangat para pengamen ini. “Hidup mereka kan sebenarnya juga sulit, tapi kok masih sempat-sempatnya bantu kesulitan orang lain,” kata dia. Padahal, para pengamen ini tidak mendapat bayaran sepeserpun dari SAR. Karena itulah, tidak alasan bagi SAR untuk menolak mereka. Sarjono pun berharap, ke depannya bakal lebih banyak lagi pengamen yang bergabung. “Bukan hanya pengamen. Siapapun, profesi apapun yang mau bergabung akan kami terima dengan tangan terbuka,” katanya. (indramufarendra)

28
Jan
11

Kamera Tua Jembatan Ampera

Tetap Semangat : Usia senja bukan penghalang

Kamera Tua Jembatan Ampera

25 Januari 2011. Saat matahari tengah terik-teriknya di langit kota Palembang.

Depan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, jembatan Ampera. Ikon kota Palembag

Percuma mengeluh, lebih baik berpeluh

Seorang lelaki tua berbaju putih rapi, mondar mandiri. Matanya awas, menatap setiap orang yang lalu lalang.

Sebuah kamera tua, terkalung pada lehernya yang penuh keriput. Kamera tuanya penuh lecet di sana-sini, seolah menunjukkan betapa lama, betapa getir hidup yang selama ini dijalaninya.

Tapi entah, si kakek tak pernah menampakkan itu pada guratan wajahnya. Ia sabar, berjuang demi beberapa lembar rupiah.

“Lima belas ribu saja,” ujar Bachtiar, nama si kakek berumur 78 tahun itu menawarkan jasanya sebagai fotografer keliling.

Di jaman yang serba digital, serba instan, jasa seorang Bachtiar mungkin tak lagi dihiraukan.

Kalaupun ada yang memanfaatkan jasanya, mungkin tak lebih dari sekedar belas kasihan.

“25 tahun lalu, masih banyak order. Sekarang, dua hari tidak ada yang order pun sudah biasa. Teman-teman seprofesi sudah KO,” katanya.

Mendengar itu, mungkin saya jadi termasuk golongan yang memanfaatkan jasanya karena iba. Beberapa lembar uang ribuan pun keluar dari dompet. Entah pas 15 ribu atau tidak, si kakek langsung menyela. “Tidak usah dihitung, berapapun kakek terima,” ujarnya. Ah, Makin iba saja saya.

Fotografer tua itu lantas menyuruh saya bergaya. Background jembatan Ampera yang jadi ikon Palembang sepertinya bagus. “Halooo, ayo senyum,” kata dia, mengarahkan saya yang memang sering canggung saat dipotret.

Si kakek mencoba mencari posisi bagus untuk memotret. Sedikit membungkuk. Badannya sedikit gemetar seolah tak kuat menahan tubuhnya yang rapuh. Tapi, ia tak terlihat mengeluh.

“Tenang, kakek ini sudah lama jadi tukang potret. Kakek punya jiwa seniman,” ujarnya, seolah menjawab keraguan yang tersirat dari wajah saya.

Hanya butuh beberapa saat, jarinya yang kusut akhirnya menekan tombol shutter.

“Sudah nak. Tapi maaf, kamera kakek pakai film. Jadi, hasilnya baru bisa diambil besok,” ujarnya. Saya hanya membalasnya dengan senyum.

“Kakek kenapa masih bekerja begini,” tanyaku penasaran. Ia pun terdiam beberapa saat, sambil menghela napas.

“Sebetulnya anak-anak kakek sudah minta berhenti,” ujarnya yang mengaku memiliki 8 anak, dan 16 cucu.

Ia bercerita, tanpa bekerja pun, anak-anaknya bisa membiayai hidupnya. Tapi dia tidak ingin berdiam diri dan merepotkan anak-anaknya.

Di usianya yang senja, Bahtiar tidak ingin tubuh rentanya jadi beban bagi anak cucu.

Ia ingin menunjukkan, inilah hidup. Besar kecil pendapatan tidak penting

Yang penting adalah bagaimana kita mensyukuri apa yang kita peroleh.

Lagipula, ia menikmati profesi ini. Tak peduli bahwa kamera analog mulai habis masa jayanya.

Si kakek hanya ingin jadi dirinya sendiri.

Percuma mengeluh, lebih baik berpeluh

Baginya, Mati di “medan perang”, jauh lebih baik ketimbang mati di atas kasur yang empuk

“Besok fotonya diambil ya. Antara jam 08.00-16.00, saya ada disini,” ujarnya

Tapi, besok pagi saya sudah tidak lagi berada di Palembang.

“Baik, besok saya ambil,” kataku berbohong.

Mungkin, satu, dua tahun lagi saya baru kembali ke kota ini. Atau mungkin tidak sama sekali.

Saya jadi penasaran. Satu, dua tahun lagi, apakah si kakek masih setia dengan kamera tuanya, di tempat ini, jembatan Ampera.